Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

PUISI IMLA

  IMLA Aku mengajari membaca imla menulis kalam Bukan pujian atau tahta   yang kupinta Hanya bahagia dan kemuliaan kau dapatkan Dari jiwa jiwa yang berkalang tersayang   Tak pantaslah kau teriakan gema berbahagia Tatkala isi kepala tak ada yang berguna Hanya hayalan berhiaskan hingar bingar berita dusta Dan angan yang kosong tanpa cita   tanpa asa   Aku berdiri tegak menantang aral dan halangan yang mendera Tak pedulikan cacian dan cemoohan yang menggunjing Kala hati bertahta sebuah cerita tentang kelana jiwa Yang menyongsong pagi dengan sejuta senyum dan tebaran asa   Makimu aku berharap tahta kecintaan penguasa Cemoohmu aku bagaikan srigala berbulu domba Gunjinganmu peka ditelingaku dengan sejuta gurau namun nyata Menghina segala darma tuk ciptakan deburan gelora   Helaan nafas yang terganjal perasaan tak puas Cucuran air mata biarlah yang selalu jadi sandaran Bila masih ada asa harap dan kekuatan kutegak...

PUISI TAHTA

  1.       Tahta Aku maju sebagai tentaramu yang teramat lugu Aku mau kala kau jadikanku pelor penyerang bak mesiu Aku siap berjuang berkalang tanah bersimbah darah Namun tatkala lengah aku pula yang kau binasakan   Ku rela terkoyak luka saat terhantam senjata Tamparan demi tamparan kian memusnahkan raga Ku jalani perjalanan panjang tanpa persinggahan Perih raga perih hati kujalani tiada henti   Kau ibarat raja tak cinta negara hanya menjaga tahta Ibarat dewa tak patut dipuja karena pendosa Tak pernah peka   dan meraba rasa manusia Hanya banggamu yang kau puja sepanjang masa   Bagaikan durjana   kau penabur angkara Perang kau tabuhkan hingga menyala dan kau Bahagia Tatkala rakyatmu sengsara kau hanya berkata itu biasa Tak sedikitpun terpancar cinta kasih dan rasa iba   Apapun yang ada di depan mata kau jadikan senjata semua tersingkir   dari jalanmu menuju tujuan nyata Bila per...

PUISI TAK SAMA

  Tak sama Kita tak sama dan takan pernah sama Karena berbeda itulah yang nyata Kau dengan balutan baju kemegahanmu Ku dengan balutan sehelai kain kehormatanku   Megahmu itu hanya ambisimu Kehormatan adalah haga diriku Bila kau kumandangkan gaung membanggakan Aku hanya menatap bayang samar kepalsuan   Kita tak sama dan takan pernah sama Berbeda latar takdir kita terlahir Tak perlu berseteru kita terus beradu Cari keutamaan untuk saling menyalahkan   Biarlah gaungmu terdengar seantero jagat raya Sementara kubahagian walaupun tak bertahta Kau genggam kuat bendera kibar kebanggan Kupeluk erat nyala sinar kemuliaan   Tekad kita tentu tak sama Namun kuyakin takan pernah mereda Kita hanya butuh waktu untuk bisa membuktikan Kau dan aku takan pernah saling mengalahkan

PUISI BERKALANG DUSTA

  Berkalang dusta Berkawan pagi bertemu mentari Dikala hujanmelihat pelangi Indah nian hariku bersamamu Meski   hanya sesaat membuatku tersesat   Tersesat aku dipeluk rayumu Dikala puja dan puji menghampiriku Meski kutahu hatimu telah berpaling Tak lagi satu aku yang bertahta direlungmu   Aku tahu musim memang silih berganti Aku   sadar masa terus berubah Tak layak kupinta bumi berhenti berputar Kala bahagia terus menjadi milik kita   Harus siap kujalani semua bila memang kehendak yang maha kuasa Jangankan kau manusia bernyawa Suatu saat meninggalkanku harus rela   Kumohon hanya maut yang memisahkan kita Bukan   perpisahan karena ditinggalkan Tak pantas aku memaksa atas nama cinta Bila kau berkehendak nista berkalang dusta

PUISI TEKAD

  Tekad Tak usah ponggah tengadah menantang bintang Tak usah memaksa melawan teriknya sang mentari Tatkala kakimu masih berpijak menapak bumi Tatkala hidup dan matimu butuh paparan tanah   Bisa jadi bintang tenggelam terhalang awan Bisa jadi mentari redup tersaput kabut Takdir tertulis rapi tanpa lihat siapa yang berjaya Nasib terukur pasti dikarenakan upaya   Bila kau berharap setegar karang di lautan Bersiaplah dapatkan deburan ombak menghantam Bila kau berharap setinggi gunung menjulang Bersiaplah   hadapi hembusan badai dingin dan beku   Bila karangmu kokoh tegar menjulang Tak usah jadi penghalang biduk berlayar Bila hutanmu hijau berpohon rindang Tak pantas pula tebar bencana   Kita hanya sebutir pasir ditepi pantai Karena gelombang siap terhempas Kita hanya seperti ilalang dihamparan ladang Bila tak berguna siap ditebang   Namun meski tumbuh ilalang tak diharapkan Tetaplah menjadi sandaran cap...

PUISI Rapuh

  Rapuh Wajah wajah pucat dalam kebisuan Diujung waktu menanti tanpa kepastian Raga seakan renta tiada kekuatan Mata seakan kesat sulit dibukakan   Hingar bingar yang terlihat dalam ingatan Kabar kabar samar sampai tanpa seleksi Masuk menjejali otak penat memusingkan Lelah jiwa raga serta fikiran   Jangankan   memikirkan masa depan Tantangan didepan mata pun seakan tak terbayang Yang tinggal hanya damba damba kesenangan Tanpa sesal tak perduli dikalahkan   Raga yang diharapkan kuat jadi penopang Jiwa yang didambakan jadi tumpuan Terkulai kaku tiada kekuatan Bagai   ranting patah tersungkur ditanah   Adakah secercah harap dalam kebutaan Adakan sebongkah intan yang jadi dambaan Kelak tua janganlah menderita Kala muda terbuang sia sia

Puisi Pejuang

  Pejuang Sosokmu ringkih dengan sejuta perih Perih hati terkoyak jiwa Darma demi darma menuntutmu terus bekerja Waktu tiada pasti kapan belalu pergi Tak sejenak kau rehat dalam kenyamanan Tak sedetik kau berhenti dari pencarian Nyaman sepertinya emggan datang bertandang Yang kau cari tiada pasti kau temukan Peluh mengucur seluruh badan Porak raga terluka tak kau hiraukan Kau tetap tengadah maju kedepan Meski raga menua asa seakan meronta Damba mu kemuliaan jiwa jiwa yang kau sayang Meski tak satupun sesuai yang kau harapkan Kasihmu membuat mu terhimpit beban Sampai kapan kau jadi pejuang diujung harapan Bung ... tubuhmu sudah tak lagi kekar Bahumu sudah tak lagi kuat untuk memikul Aku tahu kau masih bertahan darii letih Meski tergopoh kaki kian tertatih Tak adakah pengganti penopang diri  dari lara yang tiada berhenti bilakah mata tentram terpejam  meski sejenak tenang dalam haribaan  

PUISI JENGAH

  Jengah Putaran gangsing di kepala kian memusingkan Mual muak menyebalkan ingatan Mata bekunang kepala bebal dengan tumpukan materi Kepala pundak seaakan terjejali beban tak berhingga Menumpuk di pundak sesak tak kuasa tengadah Kaki terseret tergoyah tergopoh hilang tumpuan Melangkah tersenggal diantara duri duri pohon belukar Darah dan nanah berhias keringat deras mengguyur tubuh Tak terhitung peluh berdesahkan keluh Mengiangkan isak tangis pilu menghiasi lagu rindu Rindu akan kebebasan rindu akan kenyamanan dan kebahagiaan  yang hilang terkubur dalam ingatan Kau gantikan dengan sejuta beban beralaskan kewajiban Lumpur tebal menghalangi langkah tersenggal  tak kuasa melewati jeram   penuh   lubang beracun pahit menggigil hanya helaan nafas tersenggal menghimpit dada andai bisa kubangun jiwa tanpa nestapa pergi menjauh dari himpitan bumi yang kian menindih terbang di awan gemerlap bintang harapan menikmati indahnya kedamaian tanpa keka...