PERJALANAN SANG PEJUANG
PERJALANAN
SANG PEJUANG
Aku bertemu dengannya
dari awal sejak PPDB dimulai, dia begitu menarik perhatian karena berbeda
dengan yang lain, tampak tidak terlalu besar tapi terlihat kekar, tangannya
tangkas seperti tangan pekerja keras.
Sampai pada saat aku
masuk ke kelasnya untuk melaksanakan pembelajaran dia terlihat antusias rasa
ingin tahunya besar terlihat dari seringnya melontarkan pertanyaan saat
pembelajaran, Dia tampak tekun selalu mengerjakan setiap tugas yang diberikan.
Masih terkenang dalam
ingatan wajahnya yang terlihat ramah dengan mata tajam tidak pernah lengah
selalu antusias memperhatikan dan aktif dalam proses pembelajaran. Kelas 7
berakhir sampai di kelas 8 dia terus mendapatkan prestasi lumayan meski tidak
sampai rangking pertama di kelas, kerajinannya membuat dia banyak dikenal semua
guru
Hingga datang suatu saat
dimana dia sampailah di kelas 9, saat
itu bukan aku pengajar di kelasnya, namun aku mendapatkan kabar bahwasannya dia
jarang masuk kelas lagi dengan berbagai alasan.
Akhirnya wali kelas
dikerahkan untuk melakukan kunjungan ke rumahnya ada apakah gerangan dengan Danang
nama anak tersebut.
Tercengan mendapatkan
laporan dari wali kelas bahwasannya penyebab dia tak masuk kelas karena harus
berjualan sebelum masuk sekolah. Peristiwa memilukan yang terjadi dalam
keluarga memaksanya untuk menanggung beban keluarga berjualan di pasar saat
dini hari hingga waktu yang tak bisa ditentukan sampai dagangannya habis baru
dia dipersilahkan untuk pergi sekolah oleh orang tuanya.
Saat kunjungan respon
kedua orang tuanya pun kurang bersahabat seolah tak menginginkan kedatangan
wali kelas ke rumahnya menengok kabar anaknya tersebut, bahkan ayahnya sampai
mengatakan untuk apa sekolah tidak menjamin kehidupan lebih baik., saya saja tidak
sekolah tuh hidup saya bisa seperti ini seakan bangga dengan keadaannya.
Ketika ditanya Danang
berlinang air mata karena masih ingin bersekolah hanya keadaan yang tak kuasa
dia lawan. Dalam usianya yang masih belia sudah ada tanggung jawab yang harus
ditanggung membantu ibu tercinta, sementara ayahnya yang so manja dan tebar
pesona ke para wanita terkesan tidak dipercaya berusaha dan berjualan hingga
akhirnya ya Danang dan adiknya yang harus meneruskan usaha pembuatan tahu
hingga menjualnya ke pasar itu jelas luar biasa merepotkannya apalagi harus
sekolah juga.
Tapi sebenarnya dia masih
ingin bersekolah, masih ingin merasakan kemerdekaan untuk mendapatkan
Pendidikan masih terbayang cucuran air matanya mengalir deras saat ditanya
masihkah ingin melanjutkan sekolah, satu Langkah lagi menuju kelulusan kelas 9
minimal dapat ijazah MTs sayang kalau tidak dilanjutkan.
Seperti biasa Bapak Ibu
sholeh dan Sholeha yang tergerak hatinya berembuk mencarikan solusi bagaimana
caranya supaya Danang bisa tetap melanjutkan sekolahnya sampai lulus kelas 9 .
sambil mengelus dada saya berurai air mata membayangkan anak yang masih belia
harus kerja keras berusaha membersihkan kacang menggiling merebus hingga
mencetak tahu dengan tubuh yang masih kecil rasanya tak tega sambil mengusap
air mata saya bergumam bangga dengan ketabahan dan kekuatan seorang Danang, masih kecil sudah berjibaku berbakti kepada
orang tua semangat berusaha.
Dalam hati pedih terucap
kata syukur ku pada sang Maha Kuasa Allah SWT. bukan bersyukur atas penderitaan
Danang, tapi saya bersyukur anak-anak saya masih bisa diberikan kemudahan dan
kesempatan untuk bebas bersekolah, tidak dibebani tanggungan keluarga karana
Allah melimpahkan rizki yang cukup pada keluarga kami…Alhamdulillah ya
Allah…syukurku berlimpah..
Masih terisak aku
menangis bertambah deras air mataku saat mengingat betapa Allah menyayangiku
memberi aku orang tua yang begitu hebat bisa menyekolahkanku hingga meraih
gelar sarjana meski kehidupan ekonomi yang serba terbatas, tapi orang tuaku
selalu berusaha supaya aku tetap bersekolah, bagi mereka bagaimanapun caranya
aku harus tetap bersekolah tak peduli makan hanya dengan lauk seadanya, ayahku
banting tulang mencari nafkah ibuku kerja keras memutar otak untuk mengelola
keuangan supaya rizki yang didapat bisa memenuhi semua kebutuhan terutama
kebutuhan sekolah anak-anaknya
Masih terngiang
ditelingaku ayahku berkata kehidupan anak itu harus lebih baik dari orang
tuanya kalau bapa sekarang jadi petani anak bapa harus jadi guru, dosen, dokter
kalau bisa pokoknya bapa akan berusaha sekuat tenaga supaya kalian hidup lebih
baik bisa sekolah tinggi. Ya Allah terimakasih atas anugerahmu memberi orang
tua terbaik bagi hambaMu ini.
Kami para guru Danang berfikir keras bagaimana caranya membantu Danang
untuk tetap bersekolah minimal sampai
kelas 9 yang sebentar lagi. Akhirnya disepakati kalau Danang berjualannya di
sekolah supaya bisa sambil belajar.Kami gurunya bergantian berjualan tahu di
sela sela mengajar dan mau tidak mau harus pula membeli tahu meski rasa bosan
karena menu harian selalu bertemu tahu. Bagaimanapun seember besar tahu harus
habis tiap hari dan kami harus setor ke orang tua Danang sesuai target penjualan.Alhamdulillah kami
semua ikhlas menjalaninya asalkan Danang bisa terus melanjutkan sekolah.
Kami tak mau tahu tentang
apa yang dirasakan dan difikirkan oleh orang tua Danang yang kami inginkan hanya satu Danang bisa konsentrasi belajar tanpa harus dibebani
dengan target setoran jualan tahunya. Terserah dengan fikiran picik bapanya
yang menganggap sepele Pendidikan, terserah dengan anggapan ibunya Danang yang mengatakan bahwa kami guru-guru
menginginkan dikirim tahu tiap hari untuk lauk dan berbagai alasan kejadian
yang terjadi di keluarga Danang. Bagi kami yang penting Danang bisa lulus minimal sampai kelas 9.
Akhirnya tibalah waktu
kelulusan kelas 9, Danang Alhamdulillah bisa menyelesaikan pendidikannya di
kelas 9 meski dengan cucuran keringat tiap malam banting tulang berproduksi
tahu,kurang tidur bahkan kami mafhum kalau dia tidak rajin lagi mengerjakan
tugasnya karena sibuk jadi pengusaha tahu. Kucuran keringat dan air matanya
semoga menjadikannya pribadi yang kuat dan semoga jadi pembelajaran yang luar
biasa bagi siswa yang lain, yang dianugerahkan kebebasan untuk belajar,
dianugerahkan orang tua yang menyayangi mengerti arti pendidikan bagi ank-anaknya
untuk betul betul dimanfaatkan , sekolah yang rajin, menuntut ilmu tanpa batas
dari buaian hingga masuk liang lahat dan jangan lupa contoh Danang yang selalu berbakti kepada orang tua.
Kami akhirnya berpsah
dengan Danang saat pelepasan . meski dipaksa, orang tua Danang tetap tdak
mengznkan Danang melanjutkan sekolah ke MAN atau SMA dan yang sederajat. Apa
boleh buat kami pun tak tahu kisah selanjutnya hidup Danang semoga sukses
menjad pengusaha tahu, hdup bahaga sejahtera tercukup segala kebutuhan, dan
yang jelas semoga belau kelak bisa dan mau menyekolahkan anaknya hingga berpendidikan
yang lebih tinggi…aamiin ya Rabbal alamiin
Komentar
Posting Komentar