GURUKU GENIT SEKALI
GURUKU
GENIT SEKALI
Bismillahirrohmanirrohiim
Tahun
1991 aku baru masuk di kelas 1 SMA kalau sekarang kelas 10, waktu itu sepertinya
aku lagi culun-culunnya tidak bisa bergaya seperti kebayakan teman sekelasku,
maklumlah aku kurang biaya untuk bergaya, bisa sekolah juga sudah syukur
alhamdulillah. Waktu itu yang bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA mash
jarang bahkan teman-teman SD ku banyak yang tidak melanjutkan sekolah karena
alasan biaya ataupun dinikahkan.
Beruntunglah aku memilik orang tua yang sudah berfikiran
maju yang mau berjuang membiayaiku untuk melanjutkan sekolah, ayahku hanya
seorang petani tapi bercita - cita tinggi , beliau berharap kehidupan anaknya
kelak lebih baik darinya. Ibuku seorang ibu rumah tangga tangguh yang rela
mengekang segala keinginan asalkan terpenuhi kebutuhan anaknya terutama biaya
untuk sekolah. Sungguh ayah ibuku adalah pejuang pendidikan untuk kami
anak-anaknya.
Karena keadaan yang terbatas aku terbiasa bekerja keras
dalam mencapai prestasi belajar, aku harus bisa berprestasi karena tuntutan dan
motivasi diri untuk hdup lebh baik lagi.Orang tuaku tak pernah membebaniku
untuk menjadi juara kelas tapi melihat perjuangan mereka yang luar biasa timbul
kesadaran dalam diriku untuk benar-benar tahu malu, malu kalau tidak berhasil
dan berprestasi.
Aku selalu serius saat belajar, tidak pernah ngobrol atau
pun main-main hingga di cap si serius dan taat aturan,selalu mengerjakan tugas
dan banyak temanku yang suka nyontek tugas dariku, bukan karena sombong tapi
justru karena rasa malu dan takutku tinggi, takut dimarahi guru dan malu kalau
disuruh ke depan tidak bisa mengerjakan.
Aku kenal dengan beberapa guru karena sifatku yang tadi penakut
dan pemalu. Seorang guru laki - laki yang menarik perhatianku karena selain
berwajah lucu, juga gaya mengajarnya
yang menyenangkan. Diblang tampan tdak terlalu tapi cukup menarik perhatian. Gaya
mengajarnya yang aku suka. Ketika menerangkan jelas walau tanpa buku teks, kami
siswanya harus memiliki dua buku catatan rapi dan buku coreng moreng. Ketika
beliau menerangkan harus kami tulis dalam buku coreng moreng dan nanti di rumah
harus kami salin ke buku catatan rapi. Mungkin karena hal itu aku jadi hafal apa yang diterangkan beliau.
Terkenang dalam ngatan intonasi kata-katanya yang agak
beda, mimik wajahnya yang selalu penuh senyuman, tatap matanya yang sayu penuh
kelembutan, bahasa tubuhnya yang mengesankan membuat aku senang dengan mata pelajaran
yang diampunya, hingga nilaiku sangat memuaskan.
Tak
berkedip mataku saat melihat atraksi mengajarnya yang menurutku saat itu luar
biasa. Entah apa yang beliau fikirkan tentang perlakuanku kepadanya saat
belajar akupun tak tahu pasti seperti apa sikapku terlhat saat diajar beliau, bisa jadi memalukan kalau diingat
sekarang jadi tersenyum terbayang betapa terpukaunya aku melihat beliau,
sepertnya campur sari antara memperhatkan pelajaran juga memperhatkan penamplan
xixixi… jadi tersenyum sendiri. Wajarlah karena mata normalku bisa melihat
sesuatu yang indah.
suatu
hari saat ulangan harian berlangsung beliau berdiri gagah didepanku mengawasi
kami siswanya dengan seksama. Aku jadi tak konsen saat beliau menghampiriku dan
memperhatikan hasil pekerjaanku. Telunjuknya menunjuk ke jawaban soal nomor dua
ku sambil bergumam… “betulkah ini jawabannya coba ingat- ingat lagi” bisiknya.
Spontan aku pun berfikr sambil memejamkan mata mengingat gambar - gambar yang
ada di catatan hasil coreng morengku.
Deg… jantungku rasanya copot karena kaget tali BH ku menjepret bagian belakang
pundakku, sontak aku berkata setengah berteriak
“bapaa….” mataku sedikit terbelalak karena tidak disangka beliau
melakukan itu. Beliau tersenyum sambil berlalu dari sisiku. Terdengar suara
riuh teman kelasku berbisik ada juga yang tertawa ngikik melihat kejailan yang
dilakukan sang guru. Sambil mengumpat akupun melanjutkan pekerjaanku.
Suatu
saat masuklah jam pelajaran wali kelasku yang memiliki jam mengajar di kelasku
pada waktu itu belau seperti biasa selalu mengingatkan akan kedisiplinan dalam
berpakaian , rambut sepatu dsb, hingga akhirnya ada kata-kata beliau yang
melarang beranggapan berlebihan pada sikap dan perlakuan guru, jangan sampai
ada perasaan lebih ke guru bla bla bla… Beliau berkata entah ke siapa maksudnya
dan untuk apa yang jelas aku begitu serius memperhatikan semua perkataan beliau
dari A sampa Z.
Sejak
perkataan wali kelasku, aku jadi tidak mau lagi dekat dengan guru gantengku,
takutnya beliau dan teman kelasku salah faham, tanpa disadari itupun
berpengaruh pada perhatianku terhadap pelajaran beliau aku tidak lagi antusias
memperhatikan penjelasannya, enggan bertanya ataupun menjawab, dan sepertnya
lebih baik diam karena takut disalah artikan.
Padahal
nsyaAllah aku tahu diri tak mungkinlah aku berperasaan lebih kepada beliau,
karena tahu posisi, aku hanya senang dengan pembelajaran yang dajarkannya, juga
gayanya mengajar. Aku juga menghormatinya , salah beliau yang kadang
suka genit dekat- dekat aku, dan mungkin menimbulkan kecemburuan dari teman
kelasku dan sampai ke wali kelasku hngga
lahir ceramah yang melarang berperasaan lebih ke guru.
Mungkin berbanding lurus antara perlakuannya dengan
perlakuanku yang selalu taat mengerjakan PR , memperhatkan penjelasan, bertanya
, dsb hingga beliau istmewa memperlakukanku, dan yang aku rasa sebatas suka, murid terhadap guru dan tidak
lebih.
Apa
hendak dikata aku terlanjur kecewa dengan
apa yang terjadi, diakhir pembelajaran saatnya aku naik kelas dan mulai masuk
penjurusan aku berkeingnan masuk kelas unggulan. Bapa guruku menghampiriku dan berdiri dihadapanku, di
depan kelas disaksikan teman kelasku yang lain.” Kamu mau nilai berapa dariku?
Tanya beliau. Aku kaget dan menjawab “berapa pun sesuai dengan kemapuanku Pa”
jawabku singkat dan tak mau berbasa- basi.
Sedih
memang aku berprilaku sepert itu jauh dari biasanya bisa sambil bercanda tawa ria
dengan beliau tapi karena menjaga salah sangka
itu harus kulakukan.
Sampai
dihari pembagian raport alhamdulllah nilaiku bisa dikatakan luar biasa bagiku
saat itu, aku meraih rangking pertama di kelasku. Nilai istmewa yang kuperoleh dari bapa guru idolaku, dan
Alhamdulllah aku masuk ke kelas unggulan yang menjadi dambaan
Belum
sempat aku mengucapkan terimakasih pada beliau, karena beliau terpaksa harus pindah
ke suatu daerah yang jauh dari tempatku berada. Hanya do’a yang bisa
kupanjatkan saat ini semoga beliau tetap sukses menginspiras banyak siswa untuk
berprestasi.
Komentar
Posting Komentar