DERITA YANG TAK JUGA REDA
Brug….Prak ….terdengar pula teriakan dan
jeritan yang membuat Karla tersentak dan bangun dari tempat duduknya, sambil
membawa remot TV yang sedang ditontonnya. Ya tuhan ada apa ini gumamnya sambil
menuju pintu keluar ia kaget dan syok melihat banyak tetangga yang sedang
berkerumun di depan rumahnya sambil
berbisik- bisik tak pasti apa yang sedang mereka obrolkan.
Dari dalam rumah kakak lelaki Karla yang
bernama Rahmat keluar sambil menggenggam golok yang diacungkannya mengejar Rani
yang lari keluar sambil nangis dan mengumpat sumpah serapah kepada Rahmat yang
tak lain adalah ayahnya. Beberapa tetangga laki laki memburu dan menenangkan
serta menghalangi Rahmat yang ngamuk penuh amarah mengejar Rani.”Sini kamu aku
bunuh, buat apa kamu hidup hanya membuat aib keluarga saja, anak tak tahu diri
aku besarkan dengan susah payah dari kecil aku saying, aku belai tak peduli susah
hidupku demi kebahagiaanmu aku banting tulang peras keringat inikah balasanmu”
penuh geram sambil menangis Rahmat sumpah serapah memuntahkan amarahnya yang
tak terbendung pada Rani anaknya yang juga keponakan Karla.
Dikerumunan tetangga Karla mendengar
tangisan dan teriakan Rani yang terus menangis sambil berkata menimpali kata -
kata Rahmat ayahnya. Tanpa sadar Karla berteriak membentak tak kuasa dan tak
terima kakaknya dicaci maki anaknya sendiri sambil mendekat kearah Rani Karla
berkata “Diam dan tutup mulut kamu tidak usah berkata lagi, sssstttt... cukup…
tidak usah berulah hentikan dramamu di depan semua orang , masuk !!!” tandasnya
sambil menunjuk ke rumah Rahmat, memaksa Rani untuk masuk dan meninggalkan
kerumunan tetangga yang terus bergunjing dan berbisik-bisik.
Sambil menangis dan tetap memaki Rani
berjalan setengah lari masuk ke rumahnya namun tangisnya tetap masih terdengar.
Rahmat pun akhirnya masuk dan bisa ditenangkan. Sambil membaca istighfar Karla
memberanikan diri meminta para tetangga untuk bubar dan meninggalkan
keluarganya, tak lupa meminta maaf atas segala keributan yang sedang
berlangsung di rumah Rahmat. Dan akhirnya para tetangga pun mafhum satu persatu
beranjak pulang ke rumahnya masing-masing.
Karla akhirnya memohon suaminya untuk
mencari tahu apa yang sedang terjadi di keluarga Rahmat. Sebagai adik dia segan
untuk bertanya langsung ke kakaknya itu, tapi dia juga begitu khawatir dengan
keadaan kakaknya. Ya Allah musibah apa yang menimpa kakakku kali ini?
Astaghfirulloh… sambil mengusap dada Karla masuk ke kamar dan menanti
kedatangan suaminya sambil harap-harap cemas menunggu kabar yang sepertinya
kabar buruk.
Zona suami karla akhirnya pulang juga, saat
itu malam sudah larut, dengan tak sabar Karla langsung bertanya pada suaminya ”Yah
sebetulnya ada apa dengan Rani?” Tanya Karla pada Zona
“Rani hamil Bu” jawab Zona dengan wajah
lesu menjawab
“ Hah” Rani
melotot matanya terperangah
“Ya alloh… cobaan apalagi untuk kakakku”
gumamnya sambil mengusap air mata yang tak terbendung memaksa keluar dengan
derasnya.
“ Aku diminta mengantar kang Rahmat mencari
laki-laki yang harus bertanggungjawab, katanya sih teman satu sekolah dengan
Rani” kata Zona sambil duduk di sebelah Karla dan mengusap punggung Karla
seolah menenangkan hati istrinya.
“ Aku mohon bantu kakakku menyelesaikan
masalah ini” sambil terisak Karla memohon kepada Zona, dan dibalas anggukan
oleh Zona.
Besoknya Zona dan Rahmat pergi mencari
lelaki yang ditunjukan Rani sebagai calon bapa dari anak yang ia kandung.
Sungguh disayangkan saat ini Rani masih
sekolah kelas sebelas, belum pantas menjadi ibu karena usianya masih di bawah
umur belum genap 17 tahun. Sesak dada Karla apalagi Rahmat ayahnya, anak yang
ia dambakan lulus sekolah bisa kerja, jadi tumpuan di hari tuanya nanti kini
mencoreng muka menabur aib bagi keluarga.
Ingatan Karla menerawang mengapa ini bisa
terjadi, kalau dipikir Rahmat terlalu sibuk banting tulang bekerja mencari
nafkah untuk keluarga, setelah PHK dari
perusahaan sebelumnya ia jadi bekerja serabutan tak pasti, apapun ia kerjakan
dengan segala keterampilannya ia mampu mengerjakan apapun. Istrinya seorang ibu
rumah tangga biasa terlalu baik dan percaya pada anaknya yang sering pergi
dengan berbagai alasan, mengerjakan PRlah , bekerja kelompoklah apalah itulah
hingga akhirnya terjadilah hal yang memalukan itu. Haruskah aku menyalahkan
ayah atau ibu, atau Rani lah yang salah ya tuhan teramat rumit hal ini dan sungguh menakutkan.
Kalau diperhatikan memang Rani kurang
mendalami pendidikan agama. Semenjak pindah dari kota asalnya dia tak pernah
masuk sekolah agama, tetangga yang lain seusianya bersekolah agama, mengaji
Rani tidak dan kedua orang tuanya pun seperti tak memaksanya untuk melakukan
hal itu. Memang pondasi agama itu sangat penting sebagai kendali dalam
kehidupan supaya selamat dunia dan akhirat.ya Alloh semoga keluargaku jauh dari
segala marabahaya…aamiin… hati Karla
menjerit perih.
Sore hari Zona dan Rahmat pulang dan
berhasil menemukan rumah lelaki pacarnya Rani. Menurut Zona Rani sering ke
rumah lelaki itu dan orang tuanya pun kenal dengan Rani jadi ketika didatangi
sepertinya tidak kaget dan mahum tidak marah bahkan menerima kesalahan anaknya
dan bersedia bertanggungjawab atas kehamilan Rani.
Kabar itu cukup melegakan meski bisa
dibayangkan seperti apa kelanjutan kehidupan rumah tangga yang tak disertai
dengan kekuatan ekonomi. Bisa dibayangkan calon suami Rani adalah teman
seangkatan dan haruskah mereka putus sekolah?, belum kerja , tidak mapan wah
hanya akan menambah beban keluarga Rahmat saja tentunya. Tapi semua itu semoga salah karena rizki
dari Allah tidak bisa diperkirakan manusia , semoga saja dugaan Karla meleset
kali ini.
Sampailah di hari yang sudah ditentukan
pernikahan Rani berlangsung dengan sangat sederhana, tidak ada pesta meriah
hanya dihadiri keluarga dan tetangga dekat saja, tanpa gelak tawa dan canda
bahkan Rahmat terlihat muram durja, terlihat merana sangat tak rela anaknya
menikah dalam keadaan yang tak sesuai harapan. Karla merasakan apa yang
dirasakan Rahmat. “Kasihan kakakku tercinta” gumam Karla.
Seingat Karla Rahmat adalah kakak yang
super special, sholeh dan sangat sayang keluarga. Patuh dan taat kepada orang
tua sayng sama adik-adik , dialah yang dulu jadi punggung keluarga di saat ayah
sudah tua tak mampu lagi bekerja Rahmatlah yang selalu mengirimkan uang untuk
ibu dan adik-adiknya di kampong. Tak pernah keluar kata-kata perhitungan
menyakitkan pada semua keluarga yang ia biayai hingga semua adik-adiknya bisa
sekolah lanjut minimal SMA. Kini anaknya tidak tamat SMA sekalipun …. Hmmm
sesak dada Karla memikirkan hal itu
Ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga
pula, sudah hidup susah tertimpa bencana pula, itulah mungkin pribahasa yang
pas untuk menggambarkan keadaan keluarga Rahmat saat itu.
Seperti dugaan Karla, akhirnya Rani tinggal
dengan keluarganya di rumah ayahnya Rahmat, Rani tak betah lama tinggal dekat keluarga
suaminya meski rahmat telah bersusah payah hingga meminjam uang untuk membangun
tempat tinggal Rani dan anaknya di dekat rumah mertuanya. Akhirnya uang
pinjaman itu sia-sia saja karena rumahnya tak ditinggali Rani, dan Rani memilih
tinggal di rumah Rahmat.
Suatu hari datanglah kakaknya Rani yang
sudah berumah tangga pula ke rumah Rahmat ayahnya dia pulang atas panggilan
Rahmat karena sedang mengalami masalah keluarga ditempat tinggal suaminya.
Alhasil tidak cocok atau bertengkar dengan mertuanya yang terkesan tak senang
ditinggali anak dan menantu, dan akhirnya tinggal pula bersama di rumah Rahmat
sang ayah hebat.
Reni kakaknya Rani punya kebiasaan yang
kurang baik, ia pelit dan tak mengerti kebutuhan orang tua makan dan minum
disediakan oleh ibunya tanpa mau mengeluarkan biaya sepeserpun, kalau belanja
ke minimarket atau pasar langsung dibawa ke kamar tanpa memberi kepada keluarga
yang lain. Hingga suatu saat Rahmat dengan terbata pernah tanpa sengaja curhat
kalau tak satupun mantunya pernah ingat membelikan rokok atau kopi untuknya
sebagai mertua yang ada Rahmatlah yang harus menanggung kebutuhan keluarga ditambah
menantu, hingga kalau dipikir bertambahlah beban tanggungan yang harus dipebuhi
kebutuhannya. Hati Karla geram mendengar keluh kesah kakaknya, kalau bisa ingin
rasanya mengusir anak-anak yang tak tahu diri itu, tapi apa daya ia tak punya
kuasa melakukan itu toh Rahmat pun sepertinya terlalu memanja anak-anaknya itu,
bila anaknya bermasalah dalam keluarga ia selalu mengatakan pulanglah sini bapa
pun mampu menghidupimu. Perkataan itulah yang mungkin membuat anak-anaknya
manja dan selalu menganggap orang tuanya serba mampu dan jadi pahlawan untuk
mereka padahal dalam segala keterbatasan
Layaknya orang tua yang selalu megurus
anaknya dari lahir hingga dewasa setelah dewasa apalagi berumah tangga maka
anaklah yang harus mengurus dan merawat orang tua, berbakti kepada orang tua
sesuai kemampuan. Prinsip hidup Karla meski tak memberi minimal tidak usah minta apalagi
jadi beban orang tua.
Dalam Qs. Luqman ayat 14 Allah berfirman :
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu
bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah
dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada Kulah kembalimu.
Prinsip itu mungkin tak berlaku bagi
anak-anak Rahmat, meski ia sudah mampu berjualan tak pernah terlihat ingin
membahagiakan kedua orang tuanya. Pernah suatu saat ibunya Reni marah karena kesal, bagaimana tidak kesal
dengan kelakuan Reni, saat ibunya pinjam uang ia mengatakan tak punya uang
padahal hanya minjam bukan minta, tak lama kemudian Reni teriak-teriak
mengabarkan uang dan HPnya hilang di warung tempat dia jualan , ya uang satu
juta rupiah itu hilang saat ia harus meninggalkan warung sebentar saat ada
pembeli dan mencari suaminya ke rumah untuk suatu hal, sama aja seperti memberi
ke orang yang tak dikenal. Ibunya Reni bukannya sedih mendengar kabar
kehilangan tersebut malahberkata” makan tuh … makanya sama orang tua jangan
bohong…pelit sih jadi digondol maling deh uangnya” sambil tersenyum sinis
ibunya Reni mengumpat.
Sepertinya belum cukup penderitaan Rahmat
dengan ulah anak perempuannya, anaknya yang pertama laki-laki bernama Reno,
yang diharapkan jadi tulang punggung orang tua malah selalu menyusahkan dengan
berbagai kelakuannya yang menyimpang. Beberapa kali Rahmat harus menanggung
rugi karena membayar ke beberapa orang bekas kelakuan Reno. Reno pernah kerja
di beberapa kota tapi tak membuahkan hasil yang ada Rahmat harus mentransfer
uang uantuk ongkos Reno kembali ke kampung dengan berbagai alasan tidak
dibayarlah sama majikan , ditinggal kabur sama mandor hingga suatu saat Rahmat
harus menanggung ongkos balik teman-teman Reno juga dari Kalimantan hingga
jutaan rupiah. Kalau sudah terjadi Rahmat banting tulang cari pinjaman kesana
kemari untuk memulangkan Reno dari tempat kerjanya jadi bukan hasil yang
didapat malah beban bertambah di luar biaya hidup. Reno sih enak pergi ke sana kemari
seperti tamasya yang dibiayai orang tua…hahaha kadang Karla nangis campur geli
siapa yang bodoh siapa yang pintar kenapa tiap kejadian tak jadi pembelajaran
bagi Rahmat, karena kasih sayangnya yang berlebihan sama anak-anaknya Rahmat
terus berkali kali kesusahan menanggung akibat ulah Reno.
Sampai kapan penderitaan Rahmat akan
berhenti… Dosa apa yang Rahmat perbuat hingga anak-anaknya terus membelitnya
dengan berbagai kesulitan, padahal Karla jadi saksi kalau kakaknya itu lelaki
yang sholeh dan sangat berbakti kepada orang tua
Ternyata memang susah mendidik anak itu,
salah - salah anak malah jadi fitnah untuk orang tua.
Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis
shahih “ Setiap bayi yang terlahir dilahirkan dalam keadaan fitrah (islam) maka
kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani , atau
Majusi.”
Jurnal penelitian STAIN Kudus yang berjudul
Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Sejak Dini di Lingkungan Keluarga (2017),
terdapat poin-poin mendidik yang diajarkan dalam Islam, antara lain:
1.
Mengajarkan Tauhid
2. Mengajarkan adab dan akhlak
3. Mengajarkan ibadah
4. Bersikap lemah lembut dan sekaligus
tegas
5. Bersikap adil.
Karla tidak mau menambah penderitaan Rahmat
dengan mengatakan Rahmat tak pernah memberikan pendidikan yang diajarkan Islam
di atas, mungkin karena sangat sibuknya mencari nafkah hingga tak ada waktu
untuk mengajarkan berbagai hal kepada anak-anaknya. Rahmat dan banyak orang tua
di luar sana berfikiran penting memenuhi kebutuhan fisik saja, hingga banting
tulang mencari nafkah, sedangkan akidah, mental, keimanan dan ketaqwaan itu
terabaikan.Semoga kita terhindar dari derita yang tak juga reda.
Komentar
Posting Komentar