REALITA
Realita
Bismillahirohmaanirrohiim
Pagi sekali aku berangkat ke sekolah karena hari ini
begitu padat jam mengajarku selain tuntutan pingerprint yang memaksaku harus
selalu datang sebelum jam 07.00 pagi. Tiba saatnya bel jam pertama pun berbunyi
dengan bergegas aku menuju ruang kelas
jam pertamaku. Senyum ceria anak anak menyambut saat aku mengucapkan salam ketika
memasuki ruangan. Karena sudah hampir satu semester aku mengajar di kelas
tersebut aku hafal satu persatu siswa dengan berbagai gaya khas mereka.
Mataku tertuju pada sudut pojok ruangan kelas, aku
kehilangan sosok tubuh mungil dengan mata yang selalu berkedip-kedip. Ketika mengabsen
aku bertanya:” kemana Ardi ?” tanyaku pada anak anak yang hadir. Salah satu
anak menjawab” Ardi dari hari senin tidak masuk bu guru”, “ada surat?” tanyaku, “Tidak ada bu” jawab
siswa tersebut.
Sambil
melanjutkan pembelajaran aku terus berfikir dan bertanya - tanya kemanakah
gerangan Ardi, sakitkah atau apa yang terjadi padanya. Kenapa Ardi jadi
perhatianku?, karena sosok ardi berbeda dengan yang lain di kelas itu saat aku
mengajar dia anak yang pendiam, duduk di
pojok kelas terkesan memisahkan diri dari yang lain. Aku sering menghampirinya
dan menyapanya dengan beberapa pertanyaan tiap bertemu, harapanku dengan begitu
Ardi jadi mau berbaur dengan yang lain dan jauh dari kata menutup diri.
Selesai
pembelajaran karena ada jam kosong aku mampir ke ruang BP dan bercerita tentang
Ardi yang sudah tiga hari tidak masuk sekolah, ternyata BP punya catatan Ardi
sering tidak masuk sekolah namun berselang – selang.Akhir perbincangan akhirnya
disepakati bahwa pulang sekolah kami akan home visit ke rumah Ardi.
Cukup jauh rumahnya dari sekolah, kami harus naik angkot
dan melanjutkan perjalanan jalan kaki masuk gang perkampungan dan melewati
pemakaman umum yang dikelilingi pohon bambu dan pepohonan lain hingga menambah
serem tempat tersebut. Dalam hati aku berkata kasihan sekali kalau Ardi harus
berjalan tiap hari ke sekolah karena ternyata sangat jauh belum lagi kalau
sedang musim hujan pantas kalau dia harus menenteng sepatu karena jalanan becek
apalagi lewat jalan setapak pinggiran
sawah, hmmm… ada rasa sesak menghimpit dadaku…
Sampai di suatu pelataran kampung yang cukup luas mataku
tertuju pada sosok familiar yang aku kenal,” Ardi!!!...” teriakku saking
senangnya menemukan buruan pencarian. Kuhampiri tubuh mungil itu yang memegang
mangkuk plastic berisi nasi berlaukan ketcap sambil menyuapi adik kecilnya yang
masih berusia balita.”kenapa kamu tidak berangkat sekolah Nak?” tanyaku. Entah
apa yang dia rasakan tapi seperti tak sanggup menjawab dengan kata- kata,hanya
mampu menunjuk ke arah adik kecilnya sambal mata berkaca-kaca.
Tiba - tiba terdengar suara perempuan memanggil ke arahku
dan temanku, “ Bu guru silahkan masuk, mohon maaf tempatnya seperti ini” sambil
menggelarkan tikar perempuan itu yang ternyata ibunya Ardi mempersilahkan kami masuk ke rumah bambu berlantai
papan , meski sederhana tapi terlihat rapi, kami pun masuk dan menceritakan
maksud kedatangan untuk melihat keadaan anaknya yang sudah tiga hari tidak
masuk sekolah tanpa keterangan.
Dengan suara terbata ibu Ardi mengemukakan alasan kenapa
anaknya tidak masuk sekolah, “Ardi asmanya kambuh bu dan tidak kuat untuk
berjalan kaki ke sekolah, saya tidak punya uang dan harus bekerja di sawah
tetangga untuk mendapatkan uang bekal ongkos Ardi, Ardi mengasuh adiknya saat
saya bekerja di sawah jadi mohon maaf Ardi tidak masuk sekolah karena alasan
tadi, ayahnya entah dimana sudah lama tidak pernah Kembali apalagi mengirim
uang untuk biaya hidup kami, jadi beginilah saya harus berjuang sendirian
membesarkan kedua anak saya bu, lanjut ibu ardi sambil sesekali mengusap air
mata dengan ujung lengan bajunya.
Entah kenapa
tenggorokanku terasa menyempit dan sesak seakan tercekik, tak kuat rasa hati
teriris melihat kepedihan yang dialami ibu dan anak ini, “maaf sebelumnya, mata
Ardi kenapa ya “ tanyaku. Mata Ardi dilempar taburan kapur tulis bu oleh
temannya ketika SD, hingga akhirnya begitu selalu berkedip kedip dan saya baru
bisa sekali mengobati Ardi ke Puskesmas. Dadaku seakan terhimpit batu besar
terasa berat dan sesak mengapa bertubi-tubi penderitaan yang dialami anak ini
kalau bisa memutar waktu kenapa temannya pun harus menambah penderitaan Ardi.
Ya Allah… kunjungan ini membuatku pedih…
Ketika pulang sedihku tak hilang, hatiku bergumam Ardi
harus dapat bantuan. Apa yang terjadi pada Ardi
jadi fikiran dan terus menggangguku aku tak rela anak didikku harus
putus sekolah hanya karena tak memiliki ongkos untuk berangkat ke sekolah. Di sela rasa sedihku aku mengusap dada serasa berat ,
sakit menghimpit . Hatiku bergumam Ya Allah alhamdulillah keluargaku lengkap,
rizkiku mengalir tiap bulan kau anugerahkan gaji yang cukup untuk memenuhi
segala kebutuhan keluargaku, semoga Engkau tidak berhenti menyayangiku dengan
anugerahMu dan tetap mencukupi kebutuhan lahir batin keluargaku. Sakitku
mengalirkan berjuta syukur bagiku.
Apa
yang Ardi alami membuka mataku tentang realita kehidupan, masih banyak
kehidupan pahit di sekitar kita yang kadang luput dari perhatian. Tiap didera
masalah seolah hanya kita yang menderita padahal mungkin masih banyak
penderitaan orang yang lebih berat dari masalah kita.
Bersama guru yang lain kami rembukan dan mendapat
kesepakatan bahwa Ardi harus kami tolong bagaimanapun caranya hingga setiap
hari secara bergantian guru yang peka dengan penderitaan Ardi bergantian
memberi ongkos untuk Ardi ke sekolah.
Bagiku kejadian yang menimpa Ardi terkena lemparan
taburan kapur tulis pun kujadikan pengalaman pahit bagi anak didik yang tidak
boleh terulang lagi di sekolahku hingga menjadikanku begitu menghawatirkan
keselamatan anak didikku , tiap hari aku berkeliling ngontrol kelas takutnya
ada kelas kosong karena guru ada kepentingan atau berbagai alasan, yang
menyebabkan siswa memiliki kesempatan bercanda berlebihan sampai berkelahi,
hingga menyebabkan kecelakaan, dan semoga aku bisa melakukan yang terbaik untuk
anak didikku ketika di sekolah.
Ibu
Ardi orang yang dapat dipercaya Ketika mendapat bantuan untuk ongkos anaknya betul-
betul digunakan untuk ongkos tidak untuk keperluan lain, Ardi anak yang baik
tidak pernah memanfaatkan keadaan apalagi meminta bahkan kalau diberi uang pun
seperti malu enggan untuk menerima.
Ahirnya
alhamdulillah Ardi bisa menyelesaikan sekolah hingga kelas 9 dan lulus dari
madrasah Ardi yang bertubuh kecil dengan mata berkedip-kedip bisa sekolah ,
lulus sesuai harapan Alhamdulillah tak
terhingga syukurku diberi kesempatan melihat kelulusan Ardi yang mungkin bagi
Sebagian besar anak didikku lulus dari sekolah merupakan hal yang biasa karena
segala kebutuhan dipenuhi orang tuanya namun bagi seorang Ardi penuh perjuangan
untuk bisa menyelesaikan sekolahnya.Ya Allah ternyata Bahagia rasa hatiku
dengan melihat kebahagiaannya , berkahilah rizki yang banyak untuk anak didikku
Ardi juga yang lainnya semoga hidup mereka kelak penuh dengan kebahagiaan dan
kesejahteraan ,sukses dunia hingga ahirat aamiin .
Lain
Ardi lain cerita Rismawan. Aku bertemu dengannya dari awal sejak PPDB dimulai,
dia begitu menarik perhatian karena berbeda dengan yang lain, tampak tidak
terlalu besar tapi terlihat kekar, tangannya tangkas seperti tangan pekerja
keras.
Sampai
pada saat aku masuk ke kelasnya untuk melaksanakan pembelajaran dia terlihat
antusias rasa ingin tahunya besar terlihat dari seringnya melontarkan
pertanyaan saat pembelajaran, Dia tampak tekun selalu mengerjakan setiap tugas
yang diberikan.
Masih
terkenang dalam ingatan wajahnya yang terlihat ramah dengan mata tajam tidak
pernah lengah selalu antusias memperhatikan dan aktif dalam proses pembelajaran.
Kelas 7 berakhir sampai di kelas 8 dia terus mendapatkan prestasi lumayan meski
tidak sampai rangking pertama di kelas, kerajinannya membuat dia banyak dikenal
semua guru
Hingga
datang suatu saat dimana dia sampailah
di kelas 9, saat itu bukan aku pengajar di kelasnya, namun aku mendapatkan
kabar bahwasannya dia jarang masuk kelas lagi dengan berbagai alasan.
Akhirnya
wali kelas dikerahkan untuk melakukan kunjungan ke rumahnya ada apakah gerangan
dengan Rismawan nama anak tersebut.
Tercengan
mendapatkan laporan dari wali kelas bahwasannya penyebab dia tak masuk kelas
karena harus berjualan sebelum masuk sekolah. Peristiwa memilukan yang terjadi
dalam keluarga memaksanya untuk menanggung beban keluarga berjualan di pasar
saat dini hari hingga waktu yang tak bisa ditentukan sampai dagangannya habis
baru dia dipersilahkan untuk pergi sekolah oleh orang tuanya.
Saat
kunjungan respon kedua orang tuanya pun kurang bersahabat seolah tak
menginginkan kedatangan wali kelas ke rumahnya menengok kabar anaknya tersebut,
bahkan ayahnya sampai mengatakan untuk apa sekolah tidak menjamin kehidupan
lebih baik., saya saja tidak sekolah tuh hidup saya bisa seperti ini seakan
bangga dengan keadaannya.
Ketika
ditanya Rismawan berlinang air mata karena masih ingin bersekolah hanya keadaan
yang tak kuasa dia lawan. Dalam usianya yang masih belia sudah ada tanggung
jawab yang harus ditanggung membantu ibu tercinta, sementara ayahnya yang so
manja dan tebar pesona ke para wanita terkesan tidak dipercaya berusaha dan
berjualan hingga akhirnya ya Rismawan dan adiknya yang harus meneruskan usaha
pembuatan tahu hingga menjualnya ke pasar itu jelas luar biasa merepotkannya
apalagi harus sekolah juga.
Tapi
sebenarnya dia masih ingin bersekolah, masih ingin merasakan kemerdekaan untuk
mendapatkan Pendidikan. Masih terbayang cucuran air matanya mengalir deras saat
ditanya masihkah ingin melanjutkan sekolah, satu Langkah lagi menuju kelulusan
kelas 9 minimal dapat ijazah MTs sayang kalau tidak dilanjutkan.
Seperti
biasa Bapak Ibu sholeh dan Sholeha yang tergerak hatinya berembuk mencarikan
solusi bagaimana caranya supaya Rismawan bisa tetap melanjutkan sekolahnya
sampai lulus kelas 9 . sambil mengelus dada saya berurai air mata membayangkan
anak yang masih belia harus kerja keras berusaha membersihkan kacang menggiling
merebus hingga mencetak tahu dengan tubuh yang masih kecil rasanya tak tega sambil
mengusap air mata saya bergumam bangga dengan ketabahan dan kekuatan seorang
Rismawan masih kecil sudah berjibaku berbakti kepada orang tua semangat
berusaha.
Dalam
hati pedih terucap kata syukur ku pada sang Maha Kuasa Allah SWT. bukan
bersyukur atas penderitaan Rismawan tapi saya bersyukur anak-anak saya masih
bisa diberikan kemudahan dan kesempatan untuk bebas bersekolah, tidak dibebani
tanggungan keluarga karana Allah melimpahkan rizki yang cukup pada keluarga
kami…Alhamdulillah ya Allah…syukurku berlimpah..
Masih
terisak aku menangis bertambah deras air mataku saat mengingat betapa Allah
menyayangiku memberi aku orang tua yang begitu hebat bisa menyekolahkanku
hingga meraih gelar sarjana meski kehidupan ekonomi yang serba terbatas, tapi
orang tuaku selalu berusaha supaya aku tetap bersekolah, bagi mereka
bagaimanapun caranya aku harus tetap bersekolah tak peduli makan hanya dengan
lauk seadanya, ayahku banting tulang mencari nafkah ibuku kerja keras memutar
otak untuk mengelola keuangan supaya rizki yang didapat bisa memenuhi semua
kebutuhan terutama kebutuhan sekolah anak-anaknya
Masih
terngiang ditelingaku ayahku berkata kehidupan anak itu harus lebih baik dari
orang tuanya kalau bapa sekarang jadi petani anak bapa harus jadi guru, dosen,
dokter kalau bisa, pokoknya bapa akan berusaha sekuat tenaga supaya kalian
hidup lebih baik bisa sekolah tinggi. Ya Allah terimakasih atas anugerahmu
memberi orang tua terbaik bagi hambaMu ini.
Kami
para guru Rismawan berfikir keras bagaimana caranya membantu Rismawan untuk
tetap bersekolah minimal sampai kelas 9 yang sebentar lagi. Akhirnya disepakati
kalau Rismawan berjualannya di sekolah supaya bisa sambil belajar.Kami guru
Rismawan bergantian berjualan tahu di sela sela mengajar dan mau tidak mau
harus pula membeli tahu meski rasa bosan karena menu harian selalu bertemu
tahu. Bagaimanapun seember besar tahu harus habis tiap hari dan kami harus
setor ke orang tua Rismawan sesuai target penjualan.Alhamdulillah kami semua
ikhlas menjalaninya asalkan Rismawan bisa terus melanjutkan sekolah.
Kami
tak mau tahu tentang apa yang dirasakan dan difikirkan oleh orang tua Rismawan
yang kami inginkan hanya satu Rismawan bisa konsentrasi belajar tanpa harus
dibebani dengan target setoran jualan tahunya. Terserah dengan fikiran picik
bapanya yang menganggap sepele Pendidikan, terserah dengan anggapan ibunya
Rismawan yang mengatakan bahwa kami guru-guru menginginkan dikirim tahu tiap
hari untuk lauk dan berbagai alasan kejadian yang terjadi di keluarga Rismawan.
Bagi
kami yang penting Rismawan bisa lulus minimal sampai kelas 9.
Akhirnya tibalah waktu kelulusan
kelas 9, Rismawan Alhamdulillah bisa menyelesaikanpendidikannya di kelas 9
meski dengan cucuran keringat tiap malam banting tulang berproduksi tahu,kurang
tidur bahkan kami mafhum kalau Rismawan tidak rajin lagi mengerjakan tugasnya
karena sibuk jadi pengusaha tahu. cucuran keringat dan air matanya semoga
menjadikannya pribadi yang kuat dan semoga jadi pembelajaran yang luar biasa
bagi siswa yang lain, yang dianugerahkan kebebasan untuk belajar, dianugerahkan
orang tua yang menyayangi mengerti arti pendidikan bagi ank-anaknya untuk betul-
betul dimanfaatkan , sekolah yang rajin, menuntut ilmu tanpa batas dari buaian
hingga masuk liang lahat dan jangan lupa contoh Rismawan yang selalu berbakti
kepada orang tua.
Kami akhirnya berpsah dengan
Rismawan saat pelepasan . meski dipaksa orang tua Rsmawan tetap tidak mengizinkan
Rismawan melanjutkan sekolah ke MAN atau SMA dan yang sederajat. Apa boleh buat
kam pun tak tahu kisah selanjutnya hidup Rismawan semoga sukses menjadi
pengusaha tahu, hidup bahagia sejahtera tercukupi segala kebutuhan, dan yang
jelas semoga beliau kelak bisa dan mau menyekolahkan anaknya hingga berpendidikan
yang lebih tinggi.Aamiin
Identitas penulis:
Nama : Siti
Suminar, S.Pd
Nip. 197607122014112003
Jabatan : Guru Mata Pelajaran IPS Terpadu / Wakasek Bidang
Kesiswaan
Nama Satker: MTs Negeri 2 Garut
Pengalaman menulis:Buku Antologi Ketika Hobi Berbuah
Manis, Kasih Tak Sampai, dan Guru Berkesan Tak Lekang Dari Ingatan.
Komentar
Posting Komentar