PUISI LARAKU
Laraku
kucari
sosokmu di sudut ruang kosong tanpa raga terlihat mata
hanya
bangku bisu tanpa suara tak mampu kabarkan kau kemana
kudapati
kau di gubuk bambu, dengan sepiring nasi berlauk kecap
berlari
menuju sesosok mungil tertawa riang berkumpul dipelataran
kuhampiri
kau yang tak berkata hanya terlihat mata berkaca kaca
linangan
air mata seakan bicara meski tak mampu keluar suara
kuusapkan
halus tangan di kepala nan tertunduk
sesak rasa
menghimpit dada tatkala mulai membuka cerita
aku
menunggumu masuk kelasku kenapa kau tak datang
tanpa suara
tangan mungil menunjuk ke arah sosok mungil adik kecil
cukup pilu hati termangu menyisakan haru
ternyata kau penuh beban hidup menderita
jiwa besar terbalut kecilnya raga tumpuan keluarga
bukan tak mau bukan tak suka untuk bersua teman sebaya
meski bahagia tersaput awan kelana merampas merdeka jiwa
sejenak sosok perempuan memanggilku mempersilahkan singgah
nanar mata terlihat Lelah dengan tubuh bermandi lumpur sawah
satu satu kata terucap terbata dengan perlahan bercerita
kegelisahan
keadaan yang memaksa membuat diri tak berdaya
bukan maksud melalaikan masa, namun apa daya jiwa terlunta
kekasih hati pergi meninggalkan jiwa membawa cerita berjuta
lara
hanya buah
cinta tertinggal merana tanpa harta tanpa tahta penopang jiwa
terpaksa
raga yang lara menanggung duka mendalam tiada bahagia
namun asa terlihat menumbuhkan semangat nan hebat
buah cinta harus hidup terhormat, berilmu dan mampu
kebahagiaann…keselamatan…kesejahteraan jadi harapan
biarlah kenangan… biarlah angan…biarlah rintangan takan jadi
penghalang
Komentar
Posting Komentar