PUISI KABAR DAN TAHTA
1.
kabar
Hai apa kabarmu kawan?
masihkah kau memeluk kepedihan
masihkah kau bergelut kepiluan
tatkala asa dan nyata berbenturan
aku tahu hatimu seluas samudera di lautan
aku yakin jiwamu berlimpah kasih dan sayang
namun mengapa kasih tak kau dapatkan
mengapa tak kau temui kesempatan
terkenang aku akan matamu yang berlinang
saat ku genggam tangan dalam pelukan
terbata kata yang kau ucapkan perlahan
mengapa hamba yang harus menjadi korban
asamu mengukir kemandirian beruntai pujian
dambamu bisa meraih bintang nan cemerlang
hanya beban dipundak yang
tidak sepadan
menghimpit
hingga raga tak bisa bangkit
biarkan
pedihmu menjadi medali pujian
biarkan
bebanmu menjadi tangga kemuliaan
kelak
kaukan dapatkan keridhoan Tuhan
di setiap
helaan nafas yang kau hembuskan
Butiran keringat yang kau cucurkan
Kepalan tangan kayuhan perjuangan
Suatu masa
akan lantang bicara pada dunia akulah sang dharma
2.
Tahta
Aku maju sebagai tentaramu yang teramat lugu
Aku mau kala kau jadikanku pelor penyerang bak mesiu
Aku siap berjuang berkalang tanah bersimbah darah
Namun tatkala lengah aku pula yang kau binasakan
Ku rela terkoyak luka saat terhantam senjata
Tamparan
demi tamparan kian memusnahkan raga
Ku jalani perjalanan
panjang tanpa persinggahan
Perih raga
perih hati kujalani tiada henti
Kau ibarat
raja tak cinta negara hanya menjaga tahta
Ibarat dewa
tak patut dipuja karena pendosa
Tak pernah peka
dan meraba rasa manusia
Hanya
banggamu yang kau puja sepanjang masa
Bagaikan durjana
kau penabur angkara
Perang kau
tabuhkan hingga menyala dan kau Bahagia
Tatkala
rakyatmu sengsara kau hanya berkata itu biasa
Tak
sedikitpun terpancar cinta kasih dan rasa iba
Apapun yang
ada di depan mata kau jadikan senjata
semua
tersingkir dari jalanmu menuju tujuan
nyata
Bila perlu
sejuta jalan kau bangun untuk mendapatkannya
Tahta kebahagiaan yang kau angan- angankan
Komentar
Posting Komentar