DEWA BUMI

 

Dewa Bumi

Siti Suminar

 

Kala do’a serasa tak bermakna lisan kian tak bisa berkata

apa boleh buat kamu harus kuat

hadapi gunung menjulang arungi lautan yang kian dalam

lewati berbagai rintangan yang membentang seakan tak berperasaan

 

Kau…kamukita juga merekabisakah melawan itu semua

yang begitu kuat tak terkalahkan begitu geram dengan segala kemurkaan

kemana…siapa…kapan…bisakah

tak ada jawaban hanya lara yang ada

 

Tampang menantang bak pejuang siap perang

memandang mata lekat meluluhkan jiwa

aku terpana tanpa suara bagai terpenjara

menatap mulut berbuih mantera kian berbisa

 

Berkali kucoba bertahan tanpa melawan

berulang kau terus melakukan tanpa perasaan

kututup mata tapi jelas terbayang  dalam kenang

kututup telinga tapi tetap jelas kian terngiang

 

Wahai racun bermangkuk emas belanga

wahai bisa berhias kumbang pesona

aku berharap hilang kelana dosa

aku mendamba pergi tanpa Kembali

 

Seandainya bintang rela bertandang pagi pun berseri diufuk Mentari

tak perlu kabut nan menyelimuti tak butuh mega berarak hitam nan kelam

biarkan fajar bersinar menyapa dunia abaikan polusi peluit dengki

jasadmu sejuta raga berkalang murka tancapkan cakar torehkan luka penuh nestapa

 

Aku maju sebagai tentaramu yang teramat lugu   kala kau jadikanku pelor penyerang bak mesiu

aku siap berjuang berkalang tanah bersimbah darah tatkala lengah aku jua yang kau binasakan

ku rela terkoyak luka terhantam senjata, tamparan demi tamparan kian memusnahkan raga

ku jalani perjalanan panjang tanpa persinggahan perih raga luka jiwa kujalani tiada henti

 

Jejak-jejak kaki soldadumu  bergelut dalam pertempuran yang samar

lawan atau kawan pun sukar dibedakan

haus dan lapar  hadirkan dahaga  kian teramat  memperdaya  Hasrat

 

Tiada lagi kawan dalam kehidupan, semua nyawa seakan jadi tandingan untuk dikalahkan

sejengkal tantangan mencengkeram jiwa beralasan pantang siakan kesempatan 

senjata dosa siap diluncurkan panah berlumur fitnah siap dihembuskan

manusia lemah tak berdaya memikul beban angkara, menghimpit  belenggu kian melilit

 

Sementara tawa terdengar bingar dalam kegetiran tangisan

tak peduli jeritan kesakitan teman dalam lautan siksaan

rangkulan durjana membuai jiwa dalam kebahagiaan semu

tertulis pekat persekongkolan jahat terlanjur kata sepakat

 

Bagai raja tak cinta negara hanya menjaga tahta, ibarat dewa tak patut dipuja karena pendosa

tak pernah peka  dan meraba rasa manusia, hanya banggamu yang kau puja sepanjang masa

kau durjana penabur angkara, perang kau tabuhkan hingga menyala dan kau bahagia

tatkala rakyatmu sengsara kau hanya berkata itu biasa,

 

Tak sedikitpun terpancar cinta kasih dan rasa iba

apapun yang ada di depan mata kan kau jadikan senjata

semua tersingkir  dari jalanmu menuju tujuan nyata

bila perlu sejuta jalan kau bangun untuk dapatkan tahta kebahagiaan yang kau angankan 

 

 

Profil penulis:

 

Nama : Siti Suminar, S.Pd,

Lahir di Garut, 12 Juli 1976. Lulus SD tahun 1988 di SDN Wanakerta 1 Kec. Cibatu Kabupaten Garut. Melanjutkan ke SMPN 1 Cibatu lulus tahun1991, dan lulus SMA tahun 1994  di SMAN 1 Cibatu. Kuliah di IKIP Bandung lulus dari UPI tahun 2000. Mengajar di SMAN 3 Garut dari tahun 2002 s/d 2016 dan di MTsN 2 Garut dari tahun 2001 s/d sekarang sebagai Guru Mata Pelajaran IPS Terpadu dan menjabat Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan dari tahun 2018 s/d sekarang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD KEARIFAN LOKAL

Materi Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

LKPD POTENSI SDA KLS 8