Cinta Menuai DUKA

 

Perjalanan Cinta SQ 1 (Cinta Menuai Duka

Bismillahrrohmanirrohiim

Tiktak tiktak suara jam dinding berdetak terdengar bagai irama musik malam mengiringi lelahku,  anganku   menerawang terlalu banyak yang harus dipikirkan . Entah mengapa mataku   sulit terpejam meski menutup  mata namun begitu banyak bayangan yang tergambar dalam ingatan itu membuatku  sulit terlelap,  tak seperti biasa ba’da isa mataku   sudah sulit terbuka dan tidur terlelap berkelana ke alam mimpi kini sulit tertidur meski malam sudah larut.

SQ adalah nama panggilanku, aku berkelana mencari makna hidup yang nyata.  aku  bangkit dari pembaringanku   menuju meja kerja menepis rasa jemu yang tak surut pergi,  kuambil buku diary lembar demi lembar kubuka dan kubaca dengan seksama. Hmmm… gambaran kejadian masa lalu terbuka bagai terlihat dalam cermin kehidupanku  satu - satu pemainnya tersenyum menghampiri   seperti mengajak bermain memutar kembali waktu. Rasanya geli campur pilu saat mengenang kisah dalam buku diary yang masih kupegang .

Sosok tampan dengan senyuman yang selalu tersungging manis membuat jantungku berdegup kencang bila bertemu pandang, selalu menjadi motivasi dan alasanku  pergi ke masjid untuk mengaji , balapan hatam Qur’an hingga saling ejek ketika ngaji pun terbayang dalam ingatan. Dani adalah lelaki cerdas berprestasi 3 tingkatan lebih tua dariku. Aktif dalam berbagai kegiatan organisasi sekolah juga remaja masjid dan yang lebih menantang bagiku banyak perempuan yang naksir dia selain aku.

Dani  suka main ke rumah dengan berbagai alasan dan disambut baik juga oleh keluarga ku. Katanya sih masih ada hubungan saudara entah jauh atau dekat. Bagiku   ada dia dunia serasa indah dan hati bahagia entahlah apa itu namanya?. Kalau cinta   tak pernah  dibicarakan , obrolan paling  sebatas hal - hal di masjid dan di sekolah.

Yang kurang disukai dari Dani orangnya flamboyan baik ke semua orang terutama perempuan yang sepertinya senang berada di dekatnya. Katanya pacarku   tapi dengan perempuan lain pun dia dekat hingga aku sering dibuatnya cemburu. Karena aku  suka sama dia jadi sering dibuat baper gak karuan, suasana hatiku  terbentuk bagaimana perlakuannya kalau dia manis dunia pun terasa indah tapi kalau dia menyebalkan karena berbagai hal suasana hatiku pun tak karuan wuih sebel dibuatnya.

Ada satu teman mainku namanya Dea,  agak aneh terlihat katanya saudara Dani tapi nempel terus kaya perangko, kadang Dea berperan jadi  mak comblang bagi hubunganku , tapi kadang  juga bagai kompor yang membuat panas hatiku,  seperti membelai tapi juga memukul dari belakang seperti pagar tapi juga makan tanaman, terlalu banyak ikut campur dalam urusan hubunganku  dengan si tampan Dani hingga aku  gerah  dibuatnya.

Suatu Ketika aku memergoki Dani sedang berada di rumah Dea  dengan perempuan lain yang masih temanku juga namanya lisa. Saat aku lewat dia memanggilku supaya ke rumah Dea  aku tak menggubris ajakannya males. Di saat lain aku memergoki dia sedang di rumah tetanggaku yang bernama Nia dan mungkin dia di rumah perempuan-perempuan yang lainnya.

Ibuku mungkin mencium bau-bau kegalauan anaknya, beliau mendekatiku  dan membuka pembicaraan lebih dulu, seorang perempuan harus memiliki prinsip hidup yang kuat, jangan pernah menunjukan rasa suka kepaada lelaki yang belum pasti nanti takutnya dimanfaatkan oleh lelaki. Carilah lelaki yang mencintai kita jangan yang terlalu kita cintai supaya tidak terlalu terbebani dengan perasaan cinta kita. Janganlah mencintai seseorang melebihi cintamu pada Allah.

Aku  tertegun dengan kata kata ibuku, sepertinya kena tepat pada sasaran bagaiamana pun perasaan ibu pasti memahami keadaan anaknya, aku  berfikir terus berfikir ya memang tak enak terbebani perasaan yang mungkin saat itu lumayan berat bagiku, kalau dia mencintaiku kenapa ada perempuan-perempuan lain disampingnya yang tersenyum bahagia layaknya sedang bercinta, kalau memang ada aku dihatinya kenapa ada hati - hati lain juga yang ia isi dengan tebaran pesonanya, gumam hatiku,  hal itu membuatku tersadar bahwa sepertinya dia bukan untukku karena aku merasa tak seperti dia. Bukankah Allah menciptakan laki laki dan perempuan berpasangan? Laki laki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya seperti tercantun dalam Qur’an surat An-Nur ayat 26 yang artinya “Perempuan- perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji  pula, sedangkan perempuan – perempuan  yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan – perempuan  yang baik pula.

Aku tidak merasa baik tapi aku rasa dia bukanlah yang terbaik untukku dan aku yakin suatu saat aku akan menemukan yang terbaik yang Allah pasangkan untukku.

Akhirnya tibalah pada saat yang memaksaku harus mengambil keputusan, meski dibuang sayang aku harus yakin pada keputusanku saat dia memanggilku untuk bertemu di rumah Dea aku tak tahu apa yang ingin dia katakana padaku yang jelas aku tak mau didahului dan dengan pasti aku katakana “kita putus, cukup sampai disini”

“ kamu tak mau mendengarkan dulu apa yang ingin kukatakan?”tanya dia dengan mata nanar

“ tak perlu dan tak mau tahu lagi kata - kata apa yang akan kau sampaikan, keputusanku sudah bulat dan tak akan berubah kamu dan aku sudah tidak ada hubungan lagi “. Jawabku dan berlalu pergi meninggalkan dia sendiri, dan aku yakin dia takan sendiri karena ada Dea yang siap menemani.

            Aku berlalu terus melangkah meski jalan tak jelas terlihat karena terhalang linangan air mata, saat itu hatiku terasa teriris pedih, ternyata sakit sekali saat memutuskan untuk tidak mencintainya lagi. Batinku menjerit pada tuhan semesta alam…” Ya Allah sakit sekali hatiku, aku tak mau mengalami ini sekali lagi pun dalam hidupku berikanlah lelaki terbaik untukku, lelaki yang akan menjadi pendampingku kelak untuk dunia hingga akhirat”  Jeritku didalam hati sambil kuhapus air yang memaksa keluar tak terbendung dari mataku.

            Sejak saat itu aku tak peduli lagi dengan apa yang terjadi padanya, dimana dia, dengan siapa dia dan hal-hal lain tentangnya. Biarlah dia bahagia dengan caranya, dan akupun berharap Allah memberi kebahagiaan untukku tanpanya.

            Aku melanjutkan hidup dan cita-citaku dengan kasih sayang penuh ayah dan ibuku tak terbebani memikirkan orang yang belum pasti memikirkanku , lebih baik aku fokus memikirkan bagaimana cara membahagiakan orang tuaku yang sudah jelas menyayangi dan mencintaiku selama ini

            Mungkin karena kencangnya do’a yang aku panjatkan Allah benar-benar menjadikan aku perempuan tanpa kekasih. Ada yang aku suka eh ternyata dia pura-pura tanpa kepastian, ada yang terus terang suka padaku aku tidak menyukainya teruslah seperti itu datang dan pergi berlalu tiada yang pasti.

            Aku termasuk perempuan selektif dalam memilih kekasih tak mau sakit terulang jadi harus benar-benar dipikirkan dengan siapa aku nanti berpasangan, diibaratkan nilai raport pasangan hidup pun harus memenuhi kriteria , tak mau di bawah KKM tapi tak usahlah sempurna bernilai 100 karena aku sadar manusia tidak ada yang sempurna pasti ada kekurangan. Dari sepuluh kriteria lelaki idamanku terpenuhi delapan pun aku sudah bersyukur, apa saja sepuluh kriteria tersebut?

1.     Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa Allah tuhanku (seiman)

2.     Tampan, meyakinkan kalau dibawa keundangan, maksudnya supaya aku tak selingkuh pidah ke lain hati

3.     Baik hati

4.     Sholeh

5.      Mampu dalam eknomi, tidak harus kaya tapi berpotensi kaya

6.     Setia

7.     Percaya

8.     Cinta keluarga

9.     Smart

10.  Menerima aku apa adanya

Ternyata sulit memang mendapatkan yang sesuai keinginan, datang silih berganti tak ada satupun yang memenuhi kriteria tersebut, apalagi di kelas aku selalu mendapatkan rangking pertama lelaki yang sekelas denganku tentu tak masuk kriteria pintar dibanding aku. Saat itu sepertinya aku jadi perempuan yang menyeramkan, garang, jutek bahkan pernah mau berkelahi dengan lelaki kelas sebelah karena bertindak tidak sopan . Mungkin itu cara Allah melindungiku karena do’aku juga yang terlalu kencang kepada-Nya hingga harusnya aku yakin yang pas klik buatku dialah yang akan jadi jodohku.

Beberapa lelaki di sekitarku mungkin hanya datang memanfaatkan kepintaranku sekedar nyontek PR dan bertanya tentang pelajaran saja. Ada yang nekat datang ke rumah Bersama teman perempuanku berdandan rapi seperti mau ngapel tapi pas kutanya mau apa mengalihkan pembicaraan ke pelajaran lagi.Ada juga yang datang ke rumah beralasan pinjam buku sambil diskusi-diskusi kecil, Ketika mengembalikan buku di dalamnya ada secarik kertas bertuliskan puisi.Satu teman lelakiku yang aku suka aku kejar dengan berbagai pesona namun pas mengatakan cinta membuat aku hilang selera… ya seperti itulah liku liku kasihku yang tak pernah menjadi hubungan kekasih, aku suka dia tidak, sebaliknya dia suka aku tidak.

Kisah pilu berlanjut ketika aku menyukai teman kuliahku satu jurusan satu Angkatan. Aku menyukai dia karena sepertinya dia memenuhi Sembilan dari sepuluh kriteria yang jadi target pasangan hidupku, dia pintar, baik hati, manis dan sering membantu aku mengerjakan tugas-tugas perkuliahanku. Selain itu pandai pula memainkan alat music, mahir menggunakan teknologi wah pokoknya hampir sempurna. Kemana-mana kami bersama dia layaknya dewa penolong bagiku dalam segala kesulitan.

Hingga suatu saat dia serius mengajakku bertemu di suatu tempat, aku deg degan ada apakah gerangan tak seperti biasanya serius mengajak ku bertemu. Sikap kami memang bertolak belakang dia lelaki yang lembut sedikit bicara tapi pintar dalam bekerja sedangkan aku jauh dari kata lembut  banyak bicara senang bercanda tapi tidak bodoh juga karena sering juga jadi juara , mungkin satu kekuranganku suka bicara dengan yang kenal juga yang belum kenal hingga akhirnya aku terkenal hahaha…

Sesampainya di tempat bertemu kami duduk di meja dengan sajian dua gelas minuman, aku langsung membuka suasana yang sedikit beku dengan pertanyaan penasaran

“ Hai kamu tumben ngajak ketemuan serius begini ada apa ya?” tanyaku sambil menatap wajah manis di depanku

“ Gak ada apa-apa gak usah heran aku mau ngobrol aja”. Jawabnya

“Biasanya kita ngobrol rame-rame sambil jalan atau di kantin”. Sambungku masih terasa heran

“ Sesekali bolehkan aku nraktir teman cantikku”. Katanya menggodaku hingga membuat merah pipiku

“ Oh ya?”. Mataku melihat jelas reaksi wajah manisnya yang seperti ada sesuatu yang disimpan sukar untuk dikatakan.

“ Heehm…, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu, kamu jangan marah ya...”. Bujuknya.

“ masa sih aku marah…enggak lah silahkan ceritakan apa yang ingin kau katakan”.

“ Maukah kamu membantuku?”

“ Mau dooong, pasti”. Jawabku semangat tanpa menanyakan apa yang bisa kubantu

“ Aku suka sama Lena, tapi malu mengatakannya , nah aku minta bantuanmu untuk mengatakan ini padanya”. Sambil memegang tanganku dia memohon

Deg… serasa ada pukulan maut bersarang di dadaku yang membuat hampir copot jantungku, bagaimana bisa aku mendengar kata-kata permohonan dari orang yang aku suka untuk mengatakan cintanya pada temanku sendiri. Ya tuhan…sejenak aku terdiam tak keluar sepatah katapun dari mulutku yang biasanya sarat dengan kata-kata.

            Lena adalah teman karibku, kami selalu bersama di setiap kesempatan. Orangnya baik , cantik, anggun, lembut bagaikan eskrim laksana puteri salju, dewasa dan taat beragama, baginya pacarana itu tidak boleh, haram dan tidak ada dalam kamus hidupnya .Jadi wajarlah bila yang kusuka malah menyukai Lena sahabatku karena Lena itu sungguh perempuan idaman.

“ Hai…malah bengong… bisa ya kamu membantuku menyampaikan rasa ku pada Lena?”. Pintanya yang membuat hatiku teriris pedih

“ Bagaimana caranya?”. Sambil kuangkat bahuku dan menundukan pandangan darinya. Aku tak mau dia memandang dalamnya hatiku, aku takut rasaku terlihat dari pandanganku. Hatiku berbisik biarlah hanya aku yang tahu rasa ini dia tak boleh tahu, semua orang tak boleh tahu piluku.

“ Kamu buatkan surat cintaku untuknya, ayolah kamu kan pujangga cantikku, please…SQ kamu temanku yang paling top dalam berpujangga merayu, berkata Mutiara, ayolah keluarkan jurus jitumu untukku”. Kata-kata yang penuh sanjungan tapi memilukan uhuuuu…

“Hmmm…. Kalau aku tahu kamu Cuma mau memanfaatkan kepandaianku aku malas ketemu kamu disini”. Umpatku sambil mengambil gelas yang berisi minuman yang tadi rasanya manis segar kini terkalahkan rasa pahit getirnya hatiku.

“ya udah nanti aku buatkan, untuk kamu apa sih yang tidak”. Sambil tersenyum pahit aku mencoba menyembunyikan perasaan di depan pujaan bayangan.

“Terimakasih SQ ku , aku sayang sama kamu”. Bujuknya,  membuatku tambah pedih.Bagaimana tidak aku merasa akan kehilangan sosok yang selama ini begitu dekat, begitu perhatian dan selalu dapat diandalkan, hatiku tercabik toh apa yang dia perlihatkan padaku selama ini hanya kasih sayang seorang teman bukan kekasih seperti yang aku dambakan.

            Sesampainya di kosan aku  merenung sendiri seperti bingung bangun tidur, kejadian yang baru saja terjadi membuat ku sadar bahwa manusia hanya punya keinginan Allahlah yang maha menentukan, dengan kuasaNya Allah begitu mudah menjadikan alur cerita kehidupan manusia yang tak pernah disangka sebelumya. Batinku bergumam haruskah teman menjadi lawan? haruskah sayang berubah menjadi benci? sambil menuju toilet bermaksud wudhu dan melaksanakan sholat aku  mengobati hatiku yang terluka.

“Ya Allah…semua akan kujalani, apakah dia tak baik untukku?, kau yang maha tahu…bisa jadi kau punya rencana yang lebih indah untuk hidupku, Aku yakin pada kuasaMu, aku yakin akan ada lelaki terbaik yang kau ciptakan untukku namun dimanakah dia ya Allah….

            Malam hari aku duduk di depan meja belajar sambil memegang bolpoin dan secarik kertas surat berwarna biru muda. Tanganku menuliskan kata kata indah bermakna cinta. Rangkaian kata tersusun rapi  bak Mutiara penuh pesona. Dengan rela aku menuliskan sepucuk surat cinta untuk mengabulkan keinginan orang yang aku suka kepada temanku pula. Bagiku  bahagia yang tercinta adalah bahagiaku pula jadi untuk yang tercinta aku rela Menyusun kata bak curahan hatiku untuk yang aku suka, seandainya dia tahu…, namun tak perlu ditangisi cinta tak selamanya harus memiliki biarlah dia Bahagia dengan pilihannya bukan denganku pikirku,masih banyak tugas yang harus diselesaikan untuk meraih apa yang diharapkan cinta hanya selingan cerita indah tanpa kata cukup dikenang dalam ingatan.

            Selesailah suratku, dan besoknya aku berikan kepada Andra dalam keadaan rapi sudah bersampul. Betapa bahagia terlihat wajah Andra menerima surat tersebut dengan suka cita sambil tak henti memuji tulisan dan kata kata yang aku tulis.

“ Memang kamu temanku yang cantik dan bisa diandalkan, terimakasih ya !”. sambil menggenggam kedua tanganku, dan aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman seraya berkata” ya , semoga berhasiiiil”

            Selesai perkuliahan aku berbaur dengan teman lainnya , bercanda, cerita seperti biasa seolah tak terjadi hal yang mengganggu suasana hati, memang aku harus berusaha terlihat tegar  tak pernah mengeluh terhadap suatu apa pun, hingga datanglah Lena menghampiri dan menarik tanganku untuk menjauh dari kerumunan

“ Sini ada sesuatu yang ingin aku ceritakan”. Bisik Lena

“OK”. aku mengikuti ajakan Lena

Sampai di suatu tempat yang cukup tenang, Lena mengajakku duduk  sambil berbisik

“ Aku dapat surat ini”. Lena menunjukan surat bersampul biru.

“ Oh ya, dari siapaaa?”. Jawabku  pura-pura tak tahu

“ dari Andraaa”. Jawab Lena antusias terlihat berbunga-bunga

“ sudah kamu baca belum, apa isinya?”. Tanyaku  sambil tersenyum turut bahagia melihat sahabatku  berbahagia. Ternyata betapa hatiku  terobati melihat senyum bahagia Lena akupun bisa bahagia. Tak sia sia aku menulis surat semalaman ternyata bisa menghasilkan kebahagiaan Lena.

“ Belum, aku mau membacanya bareng kamu “. Sambil membuka dan membaca surat Lena terlihaat semangat diselingi senyum dikulum .Kata-kata manis penuh pujian dan rayuan dari Andra , yang aku tulis semalam. Aku menemaninya dan memperhatikan dengan seksama semburat bahagia yang tergambar dari wajahnya. Oh tuhan…. Perasaanku campur aduk tak karuan bahagia karena Lena bahagia, sedihnya karena  kata kata itu adalah perasaanku untuk Andra, seandainya aku mampu mengungkapkan isi hatiku pada Andra. Tapi kini terbalik kata kata itu jadi ungkapan kata cinta Andra untuk Lena.

            Terasa ada yang sakit , sesak didada , panas dimata dan telinga. Namun aku tetap berusaha tersenyum meski getir hati pilu tak terperi. Betapa sulit  berbahagia untuk orang yang tersayang meski semalam sudah bertekad merelakan Andra untuk Lena,tapi kini tak tahan sendiri bagai lilin terbakar api. Aku berfikir kenapa Lena yang harus jadi lawanku  untuk mendapatkan cinta Andra jiwa pejuangku lemah kala harus bersaing dengan sahabatku sendiri.

“ Kamu senang menerima surat cinta itu?”. Tanyaku pada Lena

“ Bangeeeetttt”. Jawab lena sambil bermanja memegang erat suratnya

“ Kamu suka sama Andra, mau menerima cintanya?”. Telisikku bak seorang detektif

“ iya, dari awal aku sudah naksir dia , tapi ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan SQ”. jawab Nela sambil greget mencubit  pipiku.

Cubitan itu tidaklah sakit terasa di pipi tapi yang sakit kata kata bertepuk sebelah tangannya bagai menampar keras pipi dan telingaku hingga terasa panas.

“ Bukannya dalam kamus hidup  kamu tidak ada kata pacaran?”. Tanyaku

Nela teretegun tak menjawab, rasa cinta ternyata menggoyahkan keyakinan dan prinsip hidupnya selama ini.Ternyata Nela benar-benar mencintai Andra, semoga mereka bisa bahagia bersama. Aku berbesar hati cinta Andra disambut baik oleh Nela.

“Aku turut berbahagia ya La… semoga cinta kalian langgeng hingga ke pernikahan”. Pungkasku sambil memeluk erat tubuh Nela tanpa peduli lagi jawaban Nela tentang prinsip hidupnya

“ Makasih shobaaat… Aku do’akan kamu cepat mendapatkan kekasih yang baik juga ok”.jawab Nela membalas erat pelukanku.

            Seiring waktu ternyata cinta pun berlalu, aku tak mau larut dalam duka yang tak berharga bagiku persahabatan hal yang luar biasa dan harus dipertahankan itu pun telah kulakukan. Diantara duka yang ada aku masih bisa bahagia karena aku dikelilingi cinta banyak orang, teman, sahabat , saudara-saudaraku dan yang utama cinta yang abadi sepanjang hayat cinta dari kedua orang tuaku.Mengenai kasihku yang tak sampai untuk Andra aku yakin itu karena Allah begitu menyayangiku supaya aku terbebas dari dosa berpacaran. Aku tunggu kapan dia yang terbaik kan datang sesuai permohonan sekali lagi yang akan mendampingiku dunia hingga akhirat.

 

 

 

PROFIL PENULIS

Nama :                            : Siti Suminar

Tempat/ tanggal lahir     : Garut, 12 Juli 1976

Lulusan Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS UPI tahun 2000

Saat ini penulis bekerja sebagai tenaga pendidik , guru mata pelajaran IPS Terpadu dan mendapat tugas tambahan sebagai Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan dari tahun 2018 hingga sekarang di MTs Negeri 2 Garut.

Karya yang sudah dibuat yaitu Antologi Ketika Hobby Berbuah Manis dan Antologi Guru Berkesan Tak Lekang dari Ingatan     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD KEARIFAN LOKAL

Materi Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

LKPD POTENSI SDA KLS 8